Minggu, 14 November 2021

Sebelum Dicelupin, Diputar Dulu atau Dijilat Dulu?




Ibarat Oreo, sebelum masuk ke perut juga harus diproses terlebih dahulu biar enak. Diputar, dijilat, lalu dicelupin. Begitu juga dengan naskah. Sebuah naskah akan melalui proses panjang sebelum akhirnya diterbitkan. Proses tersebut antara lain proses prapenyuntingan dan proses penyuntingan. Proses prapenyuntingan sendiri dimulai dari penerimaan naskah, pemeriksaan komponen naskah, dan penyuntingan subtantif. Sedangkan proses penyuntingan meliputi penyuntingan awal dan penyuntingan mekanis atau isi. Kedua tahap ini wajib dilalui mengingat masing-masing memiliki fungsi dan tujuan. 

Pertama, mengenai proses prapenyuntingan. Tahap paling awal dalam proses penerbitan buku adalah proses penerimaan naskah. Pada umumnya, penerbit menerima naskah dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk hardcopy dan dalam bentuk softcopy. Berdasarkan pengalaman saya mengirim naskah ke sebuah penerbit, redaksi akan mengkonfirmasi penerimaan naskah dengan mengirimkan surel atau pun memberikan surat penerimaan naskah. Isi dari surat atau surel tersebut adalah informasi umum mengenai naskah, yaitu nama pengarang atau penulis, judul, tanggal penerimaan, dan nama penerima. Tanda terima naskah ini bertujuan untuk memudahkan tim redaksi mengidentifikasi naskah sebelum masuk berkas penyimpanan. Apabila di kemudian hari penulis menanyakan kabar nasib naskah mereka, maka redaksi tidak akan kesulitan mencari berkas tersebut. 

Kedua, pemeriksaan komponen naskah. Pemeriksaan komponen naskah ini selain memeriksa kelengkapan naskah bertujuan untuk mengenal/mengidentifikasi penulis, jenis teks dan setting pembaca. Latar belakang penulis seperti pendidikan, pekerjaan, lingkungan sosial, biasanya memengaruhi buku yang ditulis. Saya sendiri, misalnya, yang pernah bekerja di kapal pesiar, pernah menulis buku fiksi dengan latar belakang kapal pesiar. Saya juga menulis buku anak non fiksi tentang belajar bahasa Inggris mengingat latar belakang pendidikan saya yang sedang menempuh gelar sarjana Sastra Inggris. Tak heran pula latar belakang penulis yang mendukung biasanya juga memengaruhi kualitas tulisan. Coba bayangkan, seseorang  tidak memiliki kompetensi dalam bidang pendidikan, tetapi menulis tentang pendidikan. Namun demikian, bukan tidak mungkin penulis dapat menulis buku meski tidak ada hubunganya dengan latar belakang sendiri, tentunya dengan riset mendalam. 

Dewasa ini tidak jarang penerbit, yang tidak hanya mengenal penulis dari latar belakang pendidikan, pekerjaan atau pun hobi saja. Sebagian penerbit juga memerhatikan popularitas penulis. Apakah dia seorang artis? Seorang penulis yang memiliki jumlah follower banyak di media sosial? Apakah dia seorang motivator yang bukunya akan laris manis jika diterbitkan? Dan sebagainya. Tidak dipungkiri bahwa penerbit, khususnya penerbit komersil juga mencari keuntungan dari buku-buku yang diterbitkan. 

Selain mengenal latar belakang penulis, pemeriksaan jenis teks dan setting pembaca juga penting dilakukan. Pemeriksaan ini biasanya dikelompokan berdasarkan jenis buku, yaitu fiksi atau non fiksi. Berdasarkan genre, misalnya horor, romance, inspiratif dan lain sebagainya. Pengelempokan jenis teks ini bertujuan memudahkan tim redaksi untuk menyerahkan ke bagian tim penyunting yang sesuai. Beberapa penerbit memiliki karakter sendiri melalui buku-buku yang diterbitkan. Sebagai contoh, penerbit buku Islami lebih cenderung menerbitkan jenis buku bergenre Islami. Tidak mungkin tiba-tiba mereka akan menerbitkan buku horor (horor Islami semacam film adzab Indosiar ada kali, ya?). Nah, di sini penting juga bagi penulis memerhatikan penerbit sebelum mengirimkan naskah.  

Tahap berikutnya adalah penyuntingan subtantif. Seorang editor akan memeriksa keselarasan tema dengan judul, bab dan isi. Kelebihan dan kekurangan naskah, kesesuaian ide dengan penerbit, serta keluwesan gaya bahasa dan ketepatan tata bahasa juga akan dievaluasi oleh tim editor. 

Setelah melalui proses prapenyuntingan, naskah akan melewati proses penyuntingan. Pertama, penyuntingan awal. Penyuntingan awal ini dilakukan oleh seorang kopieditor. Seorang kopiedtor akan menyunting naskah sesuai dengan gaya selingkung penerbit. Tujuan paling pokok dari tahap ini adalah mengukur kualitas naskah yang akan diterbitkan.

Tahap terakhir adalah proses penyuntingan isi/mekanis. Setelah naskah dinyatakan layak, para kopieditor akan melakukan proses penyuntingan isi secara mekanis. Penyuntingan ini dilakukan dengan cara memberi tanda-tanda koreksi bagian naskah. Tujuan utama dari proses ini yaitu memastikan keterbacaan, konsistensi penulisan, ketepatan bahasa, gaya penulisan, kekuatan riset yang menyangkut kebenaran data dan fakta, legalitas, serta rincian produk. 

Mengingat pentingnya kedua proses di atas, maka proses prapenyuntingan dan penyuntingan naskah wajib dilakukan dengan tujuan melahirkan buku-buku layak baca dan berkualitas sesuai dengan standar penerbitan. Dan, untuk mendukung proses tersebut diperlukan seorang penyunting yang berkompetensi.

Lalu, apa saja kompetensi yang harus dimiliki seorang penyunting?  

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel