Minggu, 14 November 2021

GREAT EXPECTATIONS - Angan Angan Setinggi Langit


Cerita ini diterjemahkan dari laman 

Project Gutenberg

Penerjemah: Andreas Supriyono (piopioa3@gmail.com)

Dilarang keras menyalin sebagian atau seluruh hasil terjemahan teks tanpa izin penerjemah.

...



Bab 1



Nama belakang keluargaku Pirrip, dan Philip nama baptisku. Karena lidahku lebih fasih melafalkan kata ‘Pip’, aku menamai diriku Pip. Ya, itulah nama panggilanku, Pip.


Aku menyematkan nama belakang keluargaku Pirrip, sebagaimana yang terpahat pada batu nisan ayah, dan seperti nama kakak perempuanku, yang sekarang telah menjadi Nyonya Joe Gargery sejak menikahi seorang pandai besi.


Aku belum pernah bertatap muka dengan ayah dan ibu, pun tidak pernah tahu bagaimana rupa mereka (karena saat mereka masih hidup belum ada fotografi). Bayanganku tentang sosok mereka sebatas dari batu nisan. Agak aneh memang, bagaimana bisa goresan kalimat pada batu nisan ayah memberiku gambaran bahwa beliau adalah sosok yang tangguh, memiliki wajah persegi, kulit gelap, dan rambut ikal hitam. Sementara dari nisan bertuliskan, “Georgina – Mendiam Istri” dengan polosnya aku membayangkan ibuku memiliki wajah yang dipenuhi bintik, dan sering sakit-sakitan. Sedangkan lima nisan kecil berbentuk belah ketupat, masing-masing satu setengah kaki panjangnya, disusun rapi di samping makam mereka, dikeramatkan untuk mendiam kelima adik laki-lakiku. Mereka telah meninggalkan lika-liku kehidupan jauh lebih cepat. Dari nisan-nisan itulah aku yakin atas apa yang kupercaya bahwa adik-adiku ditakdirkan untuk beristirahat dalam damai. Ya, mereka tidak harus mengalami apa yang kualami.


Tempat tinggal kami adalah daerah berawa-rawa, di pinggiran sungai, tidak jauh dari batang airnya yang berkelak-kelok, tepatnya sekitar duapuluh mil dari laut. Ingatan pertamaku yang paling melekat dan begitu gamblang, yakni manakala senjakala tiba. Pada saat itulah aku yakin bahwa; tempat sunyi penuh jelatang ini tidak lain pemakaman gereja, tempat di mana Philip Pirrip, mantan jemaat gereja ini, serta Georgiana, mendiang istrinya, telah dikebumikan. Alexander, Bartholomew, Abraham, Tobias, dan Roger, serta budak-budak lain juga meninggal dan dikebumikan di tempat ini. Tidak jauh dari pemakaman gereja terdapat hutan belantara. Sementara yang membelah tanggul-tanggul, gundukan tanah, dan gerbang desa, adalah rawa-rawa dengan binatang ternaknya yang biasa merumput. Di belakangnya terdapat sungai yang terlihat bak garis hitam kelam. Nan jauh di sana adalah laut, tempat ganas di mana angin bertiup kencang. Dan, budak kecil yang tengah menggigil ketakutan dan mulai menangis, ya, itulah aku, Pip.


“Jangan berisik!” seru seorang pria bersuara lantang. Pria itu sekonyong-konyong muncul di antara pemakaman dekat teras gereja. “Diam kau setan kecil, atau kugorok lehermu!”


Pria menyeramkan itu mengenakan pakaian kusut serba abu-abu dengan borgol besi besar berantai di kakinya. Sepatunya jebol. Ia tidak mengenakan topi, tetapi mengenakan kain lusuh untuk mengikat kepalanya. Pria itu basah kuyup, berlepotan lumpur, pincang karena menginjak bebatuan dan kerikil tajam, tersayat jelatang dan semak belukar. Ia tertatih-tatih, menggigil, kedua matanya melotot ke arahku sambil menggeram, gigi-giginya bergemelatukan saat mencengkeram daguku.


“Oh! Jangan gorok leherku, Tuan." Aku meratap ketakutan. “Aku mohon, jangan lakukan itu, Tuan.”


“Beri tahu namamu!” kata pria itu. "Cepat!"


"Pip, Tuan."


"Sekali lagi," katanya sambil menatap bola mataku. “Katakan dengan jelas!”


“Pip. Pip, Tuan."


“Tunjukan di mana kau tinggal,” desak pria itu. “Ayo, tunjukan!”


Aku menunjuk ke arah di mana desa kami berada, di daerah pesisir di antara pohon-pohon alder dan pollards, kira-kira satu mil dari gereja jauhnya.


Setelah mengamatiku selama beberapa saat, pria itu menjungkirbalikan tubuhku, dan mengosongkan semua isi saku. Tentu saja tidak ada apa-apa di dalamnya, selain remahan roti. Lalu, ketika ia membalikan lagi tubuhku, bangunan gereja tampak berputar seolah pindah ke bawah kakiku. Saat itulah aku terduduk di batu nisan tinggi, gemetaran melihat pria itu melahap rotiku dengan rakusnya.


"Hey, budak," ujar pria itu sambil menjilati bibirnya, "tembam sekali pipimu."


Pipiku memang tembam, meskipun tubuhku tergolong kecil nan lemah untuk anak seumuranku.


"Bodoh sekali kalau aku tidak bisa memakanmu," kata pria itu sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan sorot mata mengancam, "dan kalau aku ragu melakukannya."


Sungguh, aku berharap ia tidak akan melakukan itu. Aku mencengkeram erat batu nisan yang kududuki agar tetap bertahan di atasnya dan tidak menangis.


“Lihat ke sini!” kata pria itu lagi. “Di mana ibumu?”


“Di sana, Tuan!”


Ia terhenyak, berlari kecil, berhenti, lalu menoleh ke belakang.


“Di sana, Tuan!” Dengan takut-takut aku memberitahu. “Georgiana. Itu ibuku. "


“Oh!” katanya. "Yang terbaring di sampingnya apakah itu ayahmu?"


“Benar, Tuan. Ayahku juga jemaat gereja ini."


"Ha!" gumamnya. Sejenak ia tampak mempertimbangkan sesuatu. “Jadi, dengan siapa kau tinggal? —Itu jika aku membiarkanmu hidup, dan aku belum memutuskannya.”


“Kakaku, Tuan, Nyonya Joe Gargery, istri Joe Gargery, si pandai besi, Tuan.”


“Pandai besi, eh?” ujarnya, lalu mengalihkan pandangan.


Selama beberapa saat ia kembali mengamatiku, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah dengan wajah muram. Lantas ia berjalan mendekat, memegang kedua bahuku, dan mendorongku ke belakang. Ia mimicingkan mata, sementara aku menatapnya tak berdaya.


“Tatap mataku,” perintahnya, “aku tidak tahu, apakah kau akan kubiarkan hidup. Kau tahu alat pemotong besi? ”


"Tahu, Tuan."


"Dan kau tahu apa itu kudapan?"


"Tahu, Tuan."


Setiap melontarkan pertanyaan itu, ia mendorongku supaya aku tak berdaya dan merasa terancam.


“Bawakan aku alat pemotong besi.” Ia mendorongku. "Dan kudapan." Ia mendorongku lagi. “Bawakan keduanya untukku.” Ia terus mendorongku. “Atau aku akan membuat jantung dan hatimu terburai.” Lagi-lagi ia mendorongku.


Aku ketakutan setengah mati. Tubuhku limbung, lalu mendekap erat pria itu sambil berkata, "Kalau Anda sudi, tolong jangan dorong-dorong aku, Tuan, dengan begitu aku tidak akan kesakitan, dan mungkin aku bisa memberikan apa yang Anda minta lebih banyak."


Seketika ia mendaratkan pukulan yang luar biasa. Aku terjengkang. Ia lantas mengangkat bahuku. Masih dalam posisi berdiri di atas nisan, ia mengancam lagi.


“Besok pagi, kau bawakan pemotong besi dan kudapan itu kepadaku. Bawa yang banyak ke Battery tua di sebelah sana. Lakukan sesuai perintahku dan jangan sekali-kali berani mengatakan apa pun atau memberi tanda kepada orang lain bahwa kau bertemu dengan orang sepertiku, maka kau akan kubiarkan hidup. Kalau kau gagal, atau kalau kau mengabaikan kata-kataku, tidak peduli sekecil apa pun itu, maka hati dan jantungmu akan kuburai, kupanggang, lalu kusantap. Asal kau tahu, aku tidak sendirian di sini. Ada pria lain yang bersembunyi denganku. Dibandingkan dengan pria ini, aku adalah Malaikat. Pria ini mendengar setiap kata-kata yang kuucapkan. Meski begitu, ia memiliki cara sendiri agar bisa mendapatkan jantung dan hati budak kecil sepertimu. Sia-sia bagi budak kecil sepertimu untuk mencoba bersembunyi darinya. Kalian budak kecil mungkin bisa mengunci pintu, menghangatkan diri di tempat tidur, meringkuk, menutupi kepala dengan selimut, lalu menganggapnya nyaman dan aman, tetapi secara perlahan ia akan merayap, dan terus merayap, lantas merobeknya hingga terbuka. Asal kau tahu, susah payah aku menghalau pria ini agar jangan sampai menyakitimu, tetapi aku pun kesulitan menahannya agar tidak mendekatimu. Bagaimana menurutmu, eh?”


Aku berjanji sebisa mungkin akan memberinya pemotong besi dan kudapan, dan aku akan menemuimu di Battery pagi-pagi buta.


“Bersumpahlah demi Tuhan, dan Ia akan mengambil nyawamu jika kau tidak melakukannya!” gertak pria itu.


Aku pun bersumpah seperti yang ia inginkan.


“Nah,” ia melanjutkan, “Camkan apa yang telah kau sumpahkan dan ingat baik-baik pria ini. Sekarang pulanglah!”


"Se-selamat petang, Tuan," ujarku terbata-bata.


“Tidak usah basa-basi!” balasnya sambil melirik seolah memberikan isyarat tentang pria yang dimaksud. “Aku berharap aku adalah seekor katak atau belut!” gumamnya.


Pria itu tiba-tiba mendekapkan kedua tanganya dan begidik ngeri, lantas tertatih-tatih menuju tembok gereja. Aku memerhatikan pria itu pergi, menyusuri jalan di antara jelatang dan semak berduri yang memenuhi gundukan tanah hijau. Ia menatap mataku seolah-olah sedang menghindari tangan-tangan mayat hidup, yang dengan perlahan keluar dari tanah pemakaman dan mencengkeram pergelangan kakinya, lalu menariknya masuk.


Ketika sampai di tembok gereja kulihat pria itu melangkahinya bak seorang pria yang kakinya kaku dan lumpuh. Kemudian ia berbalik memandang ke arahku. Sontak aku berjalan cepat. Aku sempat menoleh dan melihatnya berjalan lagi ke arah sungai, masih sambil mendekap tubuhnya. Dengan kaki pincang ia berjalan di antara bebatuan besar yang tersebar di sana-sini bahkan di rawa-rawa. Bebatuan itu digunakan sebagai tempat berbijak tatkala hujan lebat atau air pasang masuk.


Rawa-rawa itu sekarang hanya terlihat seperti garis horizontal hitam panjang dan aku tidak lagi melihatnya. Sementara sungai itu terlihat seperti garis horizontal lain, tidak terlalu lebar atau terlalu hitam, dan langit terlihat seperti sederet garis merah panjang yang marah berbaur garis hitam pekat. Di tepi sungai samar-samar aku melihat dua bayangan hitam tampak berdiri tegak; salah satunya adalah mercusuar milik para nelayan. Mercusuar itu tampak seperti tong tanpa tutup di atas tiangnya. Terlihat jelek jika dilihat dari dekat. Benda yang satunya adalah tiang gantungan, dengan rantai-rantai yang menjulur. Tiang itu pernah digunakan untuk mengikat dan menggantung seorang bajak laut. Kemudian, pria itu muncul lagi lagi. Ia tertatih-tatih menuju tiang  itu, seolah-olah ia adalah si bajak laut, yang hidup lagi lalu turun dari tiang. Sekarang, ia akan mengikat dirinya lagi di tiang itu. Betapa mengerikan jika itu benar-benar nyata. Ketika aku memerhatikan binatang ternak mengangkat kepala mereka dan menatap pria itu, aku bertanya-tanya, apakah binatang-binatang itu juga memiliki pemikiran yang sama? Aku mengalihkan perhatian ke pria itu lagi, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaanya. Pria itu lenyap. Aku sangat ketakutan, lantas lari terbirit-birit.


 


 


 


 


 


 

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel