Selasa, 30 November 2021

Kompetensi Seorang Penyunting



Seyogianya seorang penyunting atau editor haruslah memiliki kompetensi utama agar hasil pekerjaanya maksimal. Kompetensi tersebut saya uraikan di bawah ini.


Pertama, seorang penyunting hendaknya mengetahui atau menguasai jenis materi/genre yang disunting. Sebagai contoh dalam sebuah penerbitan buku biasanya memiliki sub divisi editor fiksi dan non fiksi. Divisi ini pun masih dibagi ke dalam beberapa kategori, yakni editor fiksi dewasa, remaja atau pun dewasa muda. Untuk editor fiksi remaja, misalnya, masih dibagi lagi ke dalam beberapa kategori, antara lain editor fiksi fantasi, horor, thriller, dll. Masing-masing editor/penyunting ini biasanya ditugaskan berdasarkan minat genre yang dikuasai. Begitu juga pada editor non-fiksi. Penerbit akan mempercayakan seorang editor non fiksi berdasarkan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan buku yang diedit, misalnya buku Matematika.


Kedua, mengetahui sifat-sifat kata. Seorang editor haruslah piawai dalam mencari padanan kata yang cocok mengingat sifat kata yang dinamis. Sebagai contoh, kata “Kunjung” memiliki beberapa padanan kata, yaitu “jenguk”, “tilik”. Dalam sebuah karya fiksi, diksi atau pilihan kata sangat berperan pada nilai estetika sebuah kalimat.


Selain kedua kompetensi di atas, banyak sekali yang harus dikuasai seorang editor, antara lain tahu bagaimana mengolah gaya bahasa, mengolah kata, kalimat dan paragraf, karena tidak jarang dalam sebuah naskah mentah dijumpai kalimat-kalimat ambigu yang membingungkan pembaca.


Selain dari pada itu, di sini saya juga ingin menanggapi sedikit pendapat yang dikemukakan oleh Herwano (2003) salah satu staff Penerbit Mizan. Beliau mengungkapkan bahwa seorang editor juga harus memiliki kepiawaian menulis. Saya menyetujui pendapat tersebut. Bahwasanya seorang penulis terbiasa mengolah kata, kalimat dan paragraf agar paragraf-paragraf yang dihasilkan mudah dipahami dan menarik.


Meskipun kompetensi sebagai seorang penyunting atau editor telah dipaparkan dengan jelas, pada kenyataanya di lapangan tidak sedikit editor tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, seorang editor buku fiksi dipilih dari latar belakang pendidikan yang tidak sesuai. Sebagai akibat kurangnya penguasaan atau pemahaman terhadap karya fiksi, maka menghasilkan buku-buku yang sebenarnya kurang layak dikonsumsi.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel