Kamis, 09 Desember 2021

Kaitan Antara Keterampilan Membaca Dengan Penyunting Teks Terjemahan


Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah lowongan pekerjaan untuk posisi penyunting atau editor naskah fiksi terjemahan di sebuah penerbit. Salah satu syarat yang wajib dipenuhi, yaitu gemar membaca. Gemar membaca ini pun tidak sekadar gemar membaca, tetapi lebih spesifik, misalnya, fiksi bergenre fantasi atau pun romansa. Oleh sebab itu, penerbit meminta calon kandidat menyertakan daftar buku bacaan ke dalam portofolio. Berangkat dari sinilah gagasan ini saya kemukakan bahwa keterampilan membaca berkaitan erat dengan penyuntingan teks terjemahan.


Pada umumnya keterampilan membaca dapat dilihat dari kemampuan memahami teks bacaan. Seseorang yang terbiasa membaca teks berbahasa Inggris, misalnya, akan lebih memiliki kemampuan memahami teks berbahasa Inggris dibandingkan dengan yang tidak terbiasa membaca teks berbahasa Inggris. Orang yang terbiasa membaca teks berbahasa Mandarin, memiliki kemampuan lebih dalam memahamai teks berbahasa Mandarin. Orang yang gemar membaca fiksi fantasi, lebih memahami dunia fiksi fantasi. Orang yang gemar membaca buku biografi, akan lebih memahami buku biografi dibanding yang tidak suka membaca buku biografi. Bayangkan bagaimana jika calon penyunting fiksi fantasi, namun tidak suka atau tidak nyaman membaca fiksi fantasi. Atau calon penyunting buku anak, namun tidak tahu menahu soal buku anak.

Keterampilan membaca diawali dari kebiasaan membaca. Dengan terbiasa membaca, kemampuan memahami teks bacaan pun tinggi. Kemampuan memahami teks inilah yang dibutuhkan seorang penyunting. Terlebih lagi seorang penyunting terjemahan dituntut dapat memahami teks yang disunting karena bisa saja memiliki ragam yang berbeda. Sebagai contoh, struktur teks bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia.

Perhatikan ilustrasi contoh berikut!

Stephany has long curly black hair.

Kalimat tersebut dapat diterjemahkan menjadi beberapa versi, misalnya, Stephany memiliki rambut hitam keriting panjang. Terjemahan tersebut tidaklah keliru. Namun, sebagai seorang penyunting harus memahami bahwa struktur teks bahasa Inggris dan bahasa Indonesia bisa saja berbeda, tetapi memiliki makna yang sama. Maka, terjemahan tersebut dapat disunting menjadi Rambut Stephany hitam keriting panjang.

Di atas adalah contoh sederhana, yakni mengenai struktur. Dalam penerjemahan karya fiksi, kosa kata atau diksi sangatlah mempengaruhi nilai estetika. Contoh, kata “ramai” memiliki padanan “ribut”, dan “gaduh”. Di sinilah peranan penyunting untuk menyempurnakan hasil terjemahan dengan memerhatikan pilihan kata yang sesuai dengan sasaran pembaca.

Selain dari pada itu, penyunting juga dituntut berwawasan luas dan memahami jenis teks yang disunting seperti contoh-contoh yang telah disebutkan sebelumnya, misalnya penyunting naskah fiksi fantasi memahami dunia fiksi fantasi, penyunting buku puisi memahami puisi dan lain sebagainya. Semua keahlihan tersebut tentunya tidak lepas dari keterampilan membaca.


Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel